<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>TravGeek</title>
	<atom:link href="http://travgeek.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://travgeek.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Apr 2012 15:39:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>The Northern Echo</title>
		<link>http://travgeek.net/2012/02/04/the-northern-echo/</link>
		<comments>http://travgeek.net/2012/02/04/the-northern-echo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 16:25:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Britain]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Darrowby]]></category>
		<category><![CDATA[England]]></category>
		<category><![CDATA[Thirsk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travgeek.net/?p=568</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata, selain di Darlington and Stockton Times, Dan Howlet akhirnya benar2 memasang kisah kesintinganku di The Northern Echo. Bahkan di tanggal yang sama dengan Darlington and Stockton. Aku ingat sekali waktu itu artikel ini tak ditemukan di The Northern Echo. Mungkin ada penataan arsip dll yang membuat artikel ini masuk ke sini. Asik nggak sih, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata, selain di <a href="http://travgeek.net/2010/05/10/darlington-and-stockton-times/">Darlington and Stockton Times</a>, Dan Howlet akhirnya benar2 memasang kisah kesintinganku di The Northern Echo. Bahkan di tanggal yang sama dengan Darlington and Stockton. Aku ingat sekali waktu itu artikel ini tak ditemukan di The Northern Echo. Mungkin ada penataan arsip dll yang membuat artikel ini masuk ke sini.</p>
<p><img class="size-full wp-image-570 aligncenter" title="NothernEcho" src="http://travgeek.net/wp-content/uploads/2012/02/NothernEcho.png" alt="" width="500" height="326" /></p>
<p>Asik nggak sih, kalau aku iseng2 ke Darrowby a.k.a. Thirsk lagi? :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travgeek.net/2012/02/04/the-northern-echo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Miraikan The Future Museum</title>
		<link>http://travgeek.net/2011/08/11/miraikan-the-future-museum/</link>
		<comments>http://travgeek.net/2011/08/11/miraikan-the-future-museum/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 21:51:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[East Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Japan]]></category>
		<category><![CDATA[Museum]]></category>
		<category><![CDATA[Odaiba]]></category>
		<category><![CDATA[Science]]></category>
		<category><![CDATA[Tokyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travgeek.net/?p=546</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang sulit dimengerti dari buku Geek Atlas. Saat orang2 Inggris sibuk memasukkan banyak research centre dan science museum di berbagai kota ke dalam buku itu, orang Jepang malah memasukkan tempat shopping semacam Akihabara. Andai aku yang jadi koresponden Jepang, aku akan memasukkan setidaknya Science Museum di Chiyoda, dan The Future Museum di Odaiba. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang sulit dimengerti dari buku <a href="http://kun.co.ro/2011/07/10/the-geek-atlas/">Geek Atlas</a>. Saat orang2 Inggris sibuk memasukkan banyak research centre dan science museum di berbagai kota ke dalam buku itu, orang Jepang malah memasukkan tempat shopping semacam Akihabara. Andai aku yang jadi koresponden Jepang, aku akan memasukkan setidaknya Science Museum di Chiyoda, dan The Future Museum di Odaiba. Aku sendiri cuma punya waktu singkat di Tokyo, dan atas rekomendasi seorang rekan hanya memilih mengunjungi Odaiba.</p>
<p>Odaiba sendiri adalah pulau buatan di lepas Teluk Tokyo, dengan posisi seolah melindungi kota Tokyo dari berbagai ancaman dari laut. Pulau ini mulai dibuat di abad ke-19, namun mulai intens digunakan di akhir abad ke-20. Berbeda dengan Tokyo yang amat padat, suasana Odaiba sungguh lapang, dengan banyak ruang kosong, dan instalasi2 raksasa kokoh yang mengisi ruang. Odaiba dihubungkan melalui Jembatan Pelangi ke kota Tokyo. Dari Tokyo, pengunjung dapat menggunakan MRT Yurikamome dari Stasiun Shimbashi. Yurikamome ini agak terpisah dengan sistem metro Tokyo.</p>
<p><img class="size-full wp-image-3400 aligncenter" title="Miraikan00" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Miraikan00.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Di Odaiba terdapat cukup banyak obyek menarik: dari Aquatic City, pusat telekomunikasi, dan lain-lain. Tapi aku baru menghadiri konferensi mengenai infokom, jadi mungkin tak perlu menambah satu hari lagi untuk telekomunikasi. Dan, sebagai salah satu bekas pengasuh blog <a href="http://pernikilmu.com">Pernik Ilmu</a>, aku memilih Miraikan. Miraikan diinggriskan sebagai The National Museum of Emerging Science and Innovation. Untuk mengunjunginya, kita dapat turun di stasiun Funenokagakukan di Odaiba.</p>
<p><img class="size-full wp-image-3403 aligncenter" title="Miraikan01" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Miraikan01.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Kebetulan aku mengunjungi Miraikan pada 12 Juni. Ini hari kedua sebuah pameran yang memaparkan pembuatan Tokyo Sky Tree, yaitu proyek pembangunan menara setinggi 634m. Pameran ini dimulai dari sejarah menara2 tertinggi yang dibuat manusia, dari piramida Khufu dan mercusuar Alexandria, Eiffel di abad ke-19, hingga lomba kemegahan tower antar negara tanpa maksud jelas di abad ke-20. Namun menarik untuk menyaksikan berbagai tantangan yang harus dipecahkan untuk membuat tower berketinggian di atas setengah kilometer itu; plus bagaimana mereka harus merekayasa solusinya.</p>
<p>Ke lantai atas, pengunjung disambut Geo-Cosmos yang terkenal itu. Oh, sebelumnya, pengakuan dulu: blog ini dibuat karena mendadak tampak foto Geo-Cosmos dari Miraikan ini di E&amp;T Magazine edisi terakhir :). Ge0-Cosmos ini merupakan miniatur bumi, digantung pada ketinggian 18 meter, dibuat dari kerangka aluminium, dan disaluti lebih dari 10.000 panel OLED yang masing2 berukuran 96&#215;96 mm dengan 1024 pixel berwarna. Ia mensimulasikan kondisi bumi sesuai kebutuhan pengamatan.</p>
<p><img class="size-full wp-image-3404 aligncenter" title="Miraikan02" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Miraikan02.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Aku berpindah ke ruang inovasi. Di sini ditampilkan bagaimana kreasi sains dan teknologi dibentuk, bagaimana proses eksplorasinya, dan ke mana proses2 semacam itu mungkin membawa kita. Ini divisualkan sebagai lima sungai yang mengalir dari mata air harapan. Lima sungai itu ditampilkan dengan berbagai contoh.</p>
<ul>
<li>Association. Sebagai contoh, komputasi kuantum diciptakan dengan mengasosiasikan sebuah kalkulator pada karakteristik fisika kuantum. Contoh aplikasi komputasi kuantum adalah pencarian visual, misalnya mencari wajah kita dari kumpulan file gambar.</li>
<li>Integration. Sebagai contoh adalah lab dalam sebuah chip. Berbagai fungsi yang kompleks dalam lab dimampatkan dalam sebuah chip; dan chip itu dipamerkan mampu menjawab berbagai pertanyaan.</li>
<li>Serendipity. Kadang penemuan besar diawali dari kegagalan atau basil yang tak diharapkan dari eksperimen lain. Yang dicontohkan dal am kasus ini adalah plastik konduktif.</li>
<li>Mimic. Contohnya, adalah fotosintesis buatan yang meniru fotosintesis alami. Dengan mempelajari mekanisme para alam, tumbuhan, dan makhluk lain, manusia mempelajari cars memecahkan berbagai masalah, seperti masalah lingkungan dan energi.</li>
<li>Alternative. Atau pergeseran gagasan. Misalnya, mungkinkah mengubah satu atau dua masalah dari sebuah masalah besar, kemudian memecahkannya?</li>
</ul>
<p>Uh, cukup lama aku di sini. Aku berpindah secara acak, sambil diam2 mulai merindukan kapucino dingin :). Ini beberapa yang aku kunjungi:</p>
<ul>
<li>Display bagian dalam dari wahana angkasa. Di sini ditampilkan ruang2 dalam ukuran sebenarnya, tempat para astronot hidup selama di angkasa: apa yang mereka makan (makanan instan yang mudah dilunakkan, tetapi cukup beradab), apa saja yang bisa mereka lakukan (membaca, tidur, memasang musik, baca majalah, main game), dan bagaimana mereka melakukannya.</li>
</ul>
<p><img class="size-full wp-image-3406 aligncenter" title="Miraikan03" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Miraikan03.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<ul>
<li>Aku lupa ini di bagian mana :). Tapi benda ini membuka mataku tentang bagaimana syaraf bekerja. Di tengah itu cermin. Kita letakkan tangan kiri dan kanan di kayu hijau. Kita tutup mata kiri. Maka mata hanya melihat tangan kanan, dan bayangannya (yang seolah2 jadi tangan kiri). Sekarang, gerakkan tangan kanan saja. Mengejutkan! Syaraf kita memberi tahu bahwa tangan kiri kita bergerak. Padahal jelas tangan kiri kita diam. Mata melihat bayangan tangan kanan bergerak, mengiranya tangan kiri, dan mengirim pesan ke otak, yang kemudian membuat otot tangan kiri kita yakin bahwa ia telah bergerak.</li>
</ul>
<p><img class="size-full wp-image-3407 aligncenter" title="Miraikan04" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Miraikan04.jpg" alt="" width="500" height="313" /></p>
<ul>
<li>Dan ini, namanya Paro. Ia robot berbentuk anak anjing laut. Tapi ia merespons suara dan sentuhan kita, seolah2 ia memang hewan piaraan yang imut dan manja. Ada yang berminat mengadopsi Paro?</li>
</ul>
<p><img class="size-full wp-image-3408 aligncenter" title="Miraikan06" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Miraikan06.jpg" alt="" width="500" height="313" /></p>
<ul>
<li>Berikutnya adalah robot yang meniru gaya reaksi manusia. Mereka menangkap ekspresi, dan dapat memberikan ekspresi simpatik pada suara kita, seperti dengan mengangguk2 atau memberikan gaya dan lain2. Ekspresi semacam ini diyakini merupakan bagian terpadu dari komunikasi dan konversasi masa depan.</li>
</ul>
<p><img class="size-full wp-image-3411 aligncenter" title="Miraikan09" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Miraikan09.jpg" alt="" width="500" height="313" /></p>
<ul>
<li>Wahana laut Shinkai 6500, melakukan eksplorasi jauh di kedalaman laut, di tempat yang tak tertembus sinar mentari.</li>
</ul>
<p><img class="size-full wp-image-3412 aligncenter" title="Miraikan05" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Miraikan05.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<ul>
<li>Sisanya, masih cukup panjang dan banyak. Cukup untuk menghabiskan setengah hari. Tapi kadang lupa ambil foto juga. Dan entry blog ini mulai terlalu panjang, haha.</li>
</ul>
<p><img class="size-full wp-image-3409 aligncenter" title="Miraikan08" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Miraikan08.jpg" alt="" width="500" height="313" /></p>
<p>Selesai, kembali ke Tokyo, dan menikmati sore sebuah car-free day di Ginza, sebelum ke Haneda airport untuk kembali ke Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travgeek.net/2011/08/11/miraikan-the-future-museum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Travelling Geek</title>
		<link>http://travgeek.net/2011/07/12/travelling-geek/</link>
		<comments>http://travgeek.net/2011/07/12/travelling-geek/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 21:05:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[Cambridge]]></category>
		<category><![CDATA[Greenwich]]></category>
		<category><![CDATA[London]]></category>
		<category><![CDATA[Paris]]></category>
		<category><![CDATA[Taipei]]></category>
		<category><![CDATA[Tokyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koen.cc/?p=539</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya perjalanan wisata dipandu oleh buku dari Lonely Planet, atau dari ensiklopedi WikiTravel. Tapi ternyata O&#8217;Reilly pernah juga menerbitkan buku &#8220;The Geek Atlas&#8221; yang juga dapat digunakan buat menarik minat berwisata ke lokus para geek, atau untuk melihat sisi geek dari kota yang kebetulan sedang kita hinggapi. Sayangnya, buku ini US-centric, jadi sekitar 40% obyek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Biasanya perjalanan wisata dipandu oleh buku dari Lonely Planet, atau dari ensiklopedi WikiTravel. Tapi ternyata O&#8217;Reilly pernah juga menerbitkan buku &#8220;The Geek Atlas&#8221; yang juga dapat digunakan buat menarik minat berwisata ke lokus para geek, atau untuk melihat sisi geek dari kota yang kebetulan sedang kita hinggapi. Sayangnya, buku ini US-centric, jadi sekitar 40% obyek yang ditampilkan berada di US :). Dan dari 60% sisanya, i.e. 20 negara, Indonesia belum termasuk. Yang buat aku menarik, adalah bahwa aku bisa membandingkan tempat2 yang kebetulan pernah tak sengaja terkunjungi, dengan ulasan di buku ini. Ini beberapa di antaranya (mengikuti urutan dalam buku ini):</p>
<p><img title="GeekAtlas" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/GeekAtlas.gif" alt="" width="180" height="279" align="right" /><strong>Paris: Menara Eiffel</strong>. Dari sisi estetika, banyak yang tak menyukai menara ini. Ia bertahan karena memiliki fungsi ilmiah. Gustav Eiffel membangun menara ini setelah membangun banyak jembatan, dan Patung Liberty di New York. Menara disusun dari besi dengan kadar karbon yang lebih tinggi, yang dibentuk dari besi dan karat :). Besi dibentuk menjadi lempeng, yang kemudian disambung saat masih panas di tempat, dan dibiarkan mendingin sambil berkait. Tinggi menara 324m. Dari ketinggian itu, aku sempat melihat seluruh Paris, dan sempat membuat resolusi, wkwkwkwk :). Oh ya, menara itu memiliki lekuk unik dan keren karena alasan teknis: untuk menahan tekanan angin. Eiffel sendiri menyatakan bahwa anginlah yang menjadi alasan membentuk menara seperti itu. Menara ini digunakan untuk pengukuran cuaca, eksperimen ilmiah, dan kemudian juga pemancar radio. Di bawah menara, dipahatkan nama2 ilmuwan Perancis, dari Lagrange, Laplace, Lavoisier, Ampère, Becquerel, Cauchy, Coulomb, Fourier, dan lain2.</p>
<p><strong>Tokyo: Akihabara</strong>. Kaget baca nama ini di buku ini. Aku pikir ini cuman pasar elektronika terlengkap. Tapi memang ini yang disebut juga di buku ini. Kalau sebuah perangkat elektronik tak ditemukan di sini, mungkin dia tak ada di seluruh Jepang, dan pasti sulit dicari di seluruh dunia: dari perangkat tak berguna hingga perangkat mutakhir. Aku sendiri cuma lewat tempat gini, &#8216;gak berminat belanja :)</p>
<p><strong>Taipei: Taipei 101</strong>. Konon ini gedung berpenghuni yang tertinggi di dunia. Berlokasi di tepi Pasifik, gedung ini akan rentan gempa dan taufan. Maka di bagian atas dipasanglah pendulum berwarna emas seberat 660 ton untuk mencegah gedung ini berayun atau bergetar. Tentu ini jadi pendulum terheboh di dunia, karena dapat dilihat publik, yaitu pada lantar 87 &#8211; 91. Bola pendulum dapat berayun setiap saat hingga 35cm, dan meredam getaran hingga 40%. Saat terjadi taufan, pendulum dapat berayun hingga 1.5m, dengan arah berlawanan dengan arah ayunan gedung. Bumper hidrolik akan menyerap energi dan mencegah ayunan yang terlalu besar. Periode ayun gedung ini adalah 7 detik, dan pendulum telah disetel untuk match pada periode ayun ini :).</p>
<p><img class="size-full wp-image-3370 aligncenter" title="Taipei-101" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Taipei-101.jpg" alt="" width="400" height="400" /> <strong></strong></p>
<p><strong>Greenwich: Royal Observatory</strong>. Ini adalah titik 0° bujur bumi (GMT 0), yang terposisikan di Royal Observatory at Greenwich. Tak kebetulan, observatorium ini berdekatan dengan pelabuhan AL Inggris. Ini memungkinkan bakuan GMT digunakan untuk mengukur semua pelabuhan dan semua tempat di muka bumi di masa sebelum teknologi satelit, selama mereka memiliki pengukur waktu yang akurat. Oh ya, di taman yang luas dan rindang sekitar obversatorium ini, tinggal banyak tupai yang imut dan jinak :).</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-3367 aligncenter" title="Greenwich" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Greenwich.jpg" alt="" width="400" height="400" /> <strong></strong></p>
<p><strong>York: National Railway Museum</strong>. Banyak bagian dari York yang menarik. Jadi museum ini cuma aku lewati pintunya :D. Tempat ini berfungsi mereview teknologi kereta api dan sejarah Revolusi Industri. Loko dari Rocket yang berkecepatan 20 km/h hingga Flying Scotsman yang berkecepatan 160 km/h tersimpan di sini. Yang terakhir ini dapat menempuh jarak London &#8211; Edinburgh tanpa berhenti mengisi batubara.</p>
<p><strong>Cambridge: Trinity College</strong>. Aku menghabiskan seharian di sekitaran college sekitar sungai Cam ini, tapi baru sadar bahwa di sana masih tumbuh sebatang pohon apel yang konon merupakan keturunan dari pohon apel yang konon mengilhami Isaac Newton :). Di sini memang aku malah sibuk menebak ruang kerja Newton, Rutherford, Dirac, hingga Hawking, dan tak sempat memikirkan apel :). Yang waktu itu cukup banyak pengantrinya adalah Wren Library.</p>
<p><img class="size-full wp-image-542 aligncenter" title="Cambridge-01" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/07/Cambridge-01.jpg" alt="" width="400" height="312" /><br />
<strong></strong></p>
<p><strong>London: The Science Museum</strong>. Mungkin aku perlu satu entry blog sendiri tentang ini &#8212; hutang dari tahun lalu. Di museum ini ditampilkan loko Rocket dari Stephenson yang asli, jam atom pertama, modul komando Apollo 10, Mesin Diferensial dari Babbage, dan banyak sekali obyek amat menarik lainnya. Lantai bawah disediakan untuk pameran2: dunia modern (misalnya Model DNA), dunia energi, dan penjelajahan angkasa. Dan, waktu aku ke tempat ini tahun lalu, ada pameran khusus tentang pengaruh peradaban (termasuk sains dan teknologi) Islam ke dalam dunia masa kini. Yang lama aku amati memang mesin diferensial. Di abad ke-19, Babbage berencana membuat mesin mekanis untuk melakukan komputasi numerik. Mesin ini belum selesai, karena ide Babbage sendiri selalu berubah, dan pemerintah tak mudah mengucurkan dana. Umumnya pengamat sejarah menyatakan bahwa teknologi masa itu belum mampu menyiapkan ribuan perangkat mekanis renik dengan presisi setinggi yang dibutuhkan Babbage. Namun di tahun 1990an museum mencoba menyusun mesin Babbage, dan ternyata mesin dengan 4000 komponen dengan berat 2.5 ton ini benar2 bekerja. Cara kerjanya? Dengan mengelaborasi deret. Misalnya, menghitung eksponensial dengan deret Taylor; namun tidak dihitung semua dari nilai inisial, melainkan dengan menghitung selisih dari selisih secara terus menerus. Ini asal nama mesin itu.</p>
<p><img class="size-full wp-image-3366 aligncenter" title="Babbage" src="http://kun.co.ro/wp-content/uploads/2011/07/Babbage.jpg" alt="" width="500" height="281" /> <strong></strong></p>
<p><strong>London: Natural History Museum</strong>. Berada di sebelah Science Museum. Tapi waktu itu aku terlalu sore keluar dari Science Museum, jadi Natural History Museum sudah tutup :). Padahal ini konon museum terbaik yang memaparkan dunia hayati, termasuk evolusi dari teori evolusi, dari teori yang sekedar memaparkan hipotesis Darwin, hingga penguatannya oleh eksplorasi atas DNA dan seterusnya.</p>
<p><strong>Canada: Kutub Utara Magnetik</strong>. Haha, aku belum pernah ke sini. Tapi berminat sih. Posisinya di N 82° 42&#8242; 0&#8243; W 114° 24&#8242; 0&#8243;. Ada yang mau ajak aku ke sana?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travgeek.net/2011/07/12/travelling-geek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haneda</title>
		<link>http://travgeek.net/2011/06/29/haneda/</link>
		<comments>http://travgeek.net/2011/06/29/haneda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2011 08:43:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[East Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Transport]]></category>
		<category><![CDATA[Haneda]]></category>
		<category><![CDATA[Jepan]]></category>
		<category><![CDATA[Tokyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koen.cc/?p=528</guid>
		<description><![CDATA[Travel blog itu tak mudah buat aku. Selama traveling, aku tak akan banyak membuang waktu untuk mencatat. Apalagi online. Tapi di ujung perjalanan, hutang tulisan (hutang ke diri sendiri) jadi menumpuk :). Dan karena blog bukan travel book, kita tak akan menuliskan seluruh experience kita juga &#8212; hanya beberapa highlight. Atau bikin buku sekalian? Wkwkwk. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Travel blog itu tak mudah buat aku. Selama traveling, aku tak akan banyak membuang waktu untuk mencatat. Apalagi online. Tapi di ujung perjalanan, hutang tulisan (hutang ke diri sendiri) jadi menumpuk :). Dan karena blog bukan travel book, kita tak akan menuliskan seluruh experience kita juga &#8212; hanya beberapa highlight. Atau bikin buku sekalian? Wkwkwk. Daripada bikin buku jelek, mending gak usah ah :). OK. ini beberapa kesan yang aku coret sedikit dari travel ke Kyoto minggu lalu.</p>
<p><img class="size-full wp-image-534 aligncenter" title="Ocha" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Ocha.jpg" alt="" width="500" height="373" /></p>
<p>Tak seperti traveler beneran, aku tak leluasa memilih waktu perjalanan. Ini adalah business trip tempat aku harus mempersiapkan laporan dan memberikan presentasi di tempat dan waktu yang sudah dijadwalkan. Jadi aku tak bebas memilih musim terbaik atau tarif termurah. Tak keduanya :). Biarpun nasionalis tulen, tapi karena kantong sedang krisis (IEEE memberikan allowance yang tak besar), aku memilih menggunakan Air Asia, dengan destinasi jadwal terbatas (tidak ada daily flight). Maka aku harus terbang dari Jakarta jam 6.00 pagi, sampai di Kualalumpur jam 8.00 atau 9.00 waktu setempat. Ada yang berubah di KL: petugas imigrasinya jadi ramah nian :). Juga polisi di airport, jadi suka bertukar senyum. Aku menunggu jam 13.00 WIB untuk terbang lagi. Pesawat dari KL ke Haneda sepi sekali: okupansi di bawah 30%. Kalau mau aku bisa todur selonjor mengokupasi 3 seat. Tapi buat aku, itu malah tak nyaman. Penerbangan tak membosankan. Biarpun tak ada entertainment dari airline, tapi aku bisa mengeksplorasi Cherico, sebuah tablet Acer Iconia Tab yang diberikan Acer Indonesia ke aku minggu sebelumnya. Baca ebook di Kindle apps tentang Tokyo dan Kyoto, mendengarkan musik, main Angry Birds, dll, dan sampai di Haneda jam 20.30 WIB atau 22.30 waktu Tokyo.</p>
<p>Kesan pertama di Haneda adalah: tempat ini mirip Jepang. Bersih sempurna, dengan arsitektur efisien, dan tak berlebihan memberikan ornamen2. Udara nyaman, tak lembab mirip Jakarta atau KL. Di airport, semua informasi huruf kanji disertai dengan terjemahan Bahasa Inggris. Imigrasi Jepang juga amat ramah, tapi serius. Dia kaget baca bahwa aku menginap di Kyoto. &#8220;Lalu tidur di mana malam ini?&#8221; Dia mengulang pertanyaan itu berulang kali, seolah itu soal besar bahwa aku hanya perlu duduk di airport 6 jam lagi, dan naik shinkanzen pertama ke Kyoto pagi harinya :). Tapi akhirnya dia menyerah, dan memberikan cap di passportku. Aku bisa ambil bagasi. Satu petugas lagi memeriksa urusan cukai. Dengan gaya bicara seperti obrolan santai, dia meminta memeriksa bagasiku. Kenapa tidak :), masih rapi :). Dia tampak bahagia melihat simpanan jasku di bagasi, lengkap dengan dasi serasi :). Mungkin sempat curiga dia: ini ngaku &#8220;business trip&#8221; tapi tadi gayanya backpacker gini yach.</p>
<p>Selingan dikit. IEEE memang organisasi serius. Tapi menempatkan keseriusan itu akan tergantung budaya. Petinggi IEEE dari US hanya akan mengenakan jas di acara resmi, dan umumnya hanya mengenakan kemeja atau kaos polo untuk kegiatan di luar acara pembukaan dll. Tapi para profesor di negeri-negeri Asia Timur Raya, baik di IEEE maupun di forum lain, gemar sekali bergaya resmi: dengan suite jas dan celana satu set, dasi, hingga sepatu dan rambut berkilau. Aku sendiri terbiasa mengenakan kemeja santai ditutup jaket agak resmi. Sempat kena tegur Pak Wahidin di Cebu, aku jadi beli dasi. Di HK, aku harus beli jas buat seminar, soalnya seluruh peserta pakai jas resmi, bukan cuma speaker. Jadi di acara IEEE kayak Cebu, Yogya, dan Kyoto, akan tampak barisan orang Asia dengan jas dan dasi, bersanding dengan mitra dari Amerika (utara/selatan) dengan style engineer. Dan ini menjelaskan, kenapa pihak cukai Jepang agak jengah melihat makhluk riang bergaya backpacker mengaku akan menghadiri international conference :).</p>
<p>Lolos cukai, aku cari info transportasi dulu. Keramahan Jepang ternyata bukan individual, melainkan budaya bersama. Si mbak di travel desk riang sekali menyambut, dan antusias bercerita tentang alternatif perjalanan ke Kyoto, secara detil. Tampilan dan gaya bercakapnya mirip sinetron Korea beneran yang ceria penuh cahaya (nggak mirip film Jepang yang serius melulu). Padahal dia tahu aku nggak beli tiket bus dll dari tempat dia. Trus pindah ke Money Changer. Di sini, aku harus isi form dulu untuk bisa menukar mata uang asing ke Yen. Selain mata uang internasional seperti USD dan Euro, mata uang Asia termasuk Rupiah diakui di sini. Satu mata uang, satu form. Tapi dua mas di loket itu, lagi2 bergaya kayak sinetron Korea atau Taiwan yang ceria penuh cahaya. Heran, pemuda-pemudi Jepang masa kini mau kerja tengah malam di Airport buat melayani turis dengan amat ceria. Aku mulai merasa aku sedang main sinetron Asia :).</p>
<p>Aku mulai mencari tempat duduk yang nyaman. Belajar dari kebodohan tahun lalu, di mana kami meninggalkan Stansted Airport yang nyaman di tengah malam untuk menunggu pagi di terminal Victoria yang tak nyaman dan tak aman di tengah London, maka kali ini aku menunggu pagi di Haneda saja. Di Indonesia masih jam 21.00. Dengan WiFi TIAT yang gratis dan cukup kencang, aku kontak negeri2 Asia Tenggara. Tim Lorong Maut pengelola TelkomSpeedy.com masih lembur panjang dan belum makan malam, menyiapkan display untuk IPv6, dan masih perlu koordinasi ini itu. Sayangnya tak lama baterai Mac habis. Dan aku terlalu bodoh untuk membawa plug converter, atau charger Mac US yang asli. Jadi powerless. Satu2nya supermarket di Haneda yang masih buka tengah malam itu tak menjual plug converter. Tampaknya sebagian besar tourist di Jepang berasal dari US, yang tak memerlukan plug converter di sini :). Mac off.</p>
<p>Seorang anak muda mendatangi. Pinjam akses Internet. Dan panik sadar Mac-ku tinggal 4% dan akan mati dalam beberapa menit. Dia pilot Korea yang harus terbang dari Korea siang itu. Tapi flight koneksi dari Delta yang dia naiki tak berhasil mengidentifikasi dia, dan dia tak berhasil terbang ke Seoul. Dia cuma perlu mengirim foto dan mendownload kembali surat konfirmasi baru. Panik reda, kami memutuskan makan roti bareng2 sambil diskusi memecahkan masalah dia. Kalau cuman kirim foto, dia gak perlu komputer canggih, kataku. Pakai si Cherico juga bisa. Halah, iklan. Dia tertarik sekali. Tapi telefon2 lagi pakai bahasa Korea, dan ternyata masalah dia sudah teratasi. Tinggal tunggu waktu. Kami berpisah. Aku baca2 lagi. Eh, sudah jam 4. Cuci muka, sikat gigi, menyegarkan badan. Trus &#8230; malah ketiduran. Jam 5.15 aku terbangun, lari ke MRT station, beli tiket ke Shinagawa, minum sebotol air jeruk. MRT menarik sekali. Sepi (masih jam 5.30 sih), dan penuh orang2 rapi2 :). Aku turn di Shinagawa, lari ke &#8230; lari ke &#8230; loh, semua masih tutup.</p>
<p><img class="size-full wp-image-533 aligncenter" title="Shinagawa" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Shinagawa.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Ke ruang informasi, aku diinformasikan bahwa semua baru buka jam 6.00 tepat. Huh, padahal aku mau naik kereta jam  6.00. Di sebelah ruang informasi, ada ruang tempat penukaran tiket turis (Japan Rail Pass). Ini tiket agak murah, khusus bagi turis, untuk berkeliling seluruh Jepang. Harganya mirip tiket Tokyo-Kyoto pp, tapi bisa dipakai ke mana saja 7 hari. Tiket ini hanya bisa dibeli dari luar Jepang, lalu ditukarkan di sini. Tapi bukanya baru jam 9.00 (tertulis demikian). Aku luangkan waktu jalan2. Termasuk melihat seorang wanita tua dan lusuh yang tidur di Stasiun Shinagawa. Heh, ini masih Jepang yang perfect tadi? Hmm. Revisi dikit.</p>
<p>Jam 5:59. Seorang cewek mungil mulai membersihkan lantai di depan pintu, lalu membuka kunci. Aku bertanya, kapan loket dibuka? Dia bilang: Jam 6:00. Trus dia buka pintu geser. Di dalam, lampu sudah menyala, dua loket terbuka, dan dua cowok sudah siap menjual tiket. Jam 6:00 tepat aku melangkah ke ticket desk. Sinting. Aku langsung beli tiket shinkanzen Tokyo-Kyoto. ¥12710. Masuk stasiun, aku sekedar mengikuti arah2 yang ditunjukkan. Di bawah, satu kereta sudah dibuka. Pasti bukan kereta pertama, yang meluncur jam 6:00 tepat, waktu aku masih di ticket desk tadi.</p>
<p><img class="size-full wp-image-532 aligncenter" title="Shinkanzen" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Shinkanzen.jpg" alt="" width="500" height="373" /></p>
<p>Shinkanzen yang aku naiki berjenis Nozomi: tiper terbaru, paling cepat, dengan WiFi dan colokan listrik didalamnya. Tapi aku nggak punya plug converter. So, aku melakukan hal yang selalu kulakukan di atas kereka sekian ratus tahun terahir: mengamati pemandangan di luar jendela. Yokohama, Gunung Fuji yang masih berselimut kabut, Shizuoka, Nagoya, dan turun di Kyoto.</p>
<p>OK, cerita selanjutnya sudah aku tulis panjang lebar di 3 tulisan terdahulu di blog ini.</p>
<p>Haneda arah pulang. Menarik juga sih. Tapi lain hari deh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travgeek.net/2011/06/29/haneda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tokyo E Iki Mas</title>
		<link>http://travgeek.net/2011/06/21/tokyo/</link>
		<comments>http://travgeek.net/2011/06/21/tokyo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 10:41:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[East Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Japan]]></category>
		<category><![CDATA[Tokyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koen.cc/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Weekend. Dan Kyoto station menampilkan wajah yang berbeda: tak terlalu banyak lagi gegas langkah2 panjang. Dengan langkah ringan aku memasuki ruang JR ticket sales untuk perjalanan ke Tokyo. Bercita2 melihat lagi Fujiyama, aku coba pesan reserved seat di posisi duduk dekat jendela kiri. Tapi posisi menarik itu telah penuh dipesan :). Jadi aku ambil tiket [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Weekend. Dan Kyoto station menampilkan wajah yang berbeda: tak terlalu banyak lagi gegas langkah2 panjang. Dengan langkah ringan aku memasuki ruang JR ticket sales untuk perjalanan ke Tokyo. Bercita2 melihat lagi Fujiyama, aku coba pesan reserved seat di posisi duduk dekat jendela kiri. Tapi posisi menarik itu telah penuh dipesan :). Jadi aku ambil tiket non-reservation yang lebih murah. Tiket seharga ¥12700 dicetak. Huh, semuanya huruf kanji. Arigato gozaimasta. Lincah aku bergerak ringan. Loh, ringan. Sial, luggageku tertinggal di sales desk. Balik lagi, senyum manis lagi, ambil luggage, arigato lagi. Lalu turun. Shinkanzen Hikari hampir masuk. Seorang gentleman agak senior menunjukiku peron khusus non-reservation dengan bahasa Inggris sempurna sekali. Hikari datang, dan aku masuk. Kosong sekali. Aku bisa mengambil posisi duduk di jendela kiri (di antara banyak posisi yang sama).  Hmm, padahal yang reserved seat semuanya penuh. Mungkin, para unreserved passenger kayak aku lebih memilih Shinkanzen Nozomi beberapa menit kemudian (yang fasilitasnya lebih lengkap: ada cherger, WiFi, dll). Tapi aku akan lebih memilih Hikari yang memungkinkan aku duduk di &#8230; hei kereta berangkat. Nagoya. Shizuoka. Kantuk menyerang. Pesan kopi ¥300. Segar lagi. Baca2 buku di Acer Iconia yang baru (baru dipinjami pihak Acer Indonesia). Dan tak lama, tampaklah Gunung Fuji di kiri kereta.</p>
<p>Cuaca tak terlalu ramah. Angin kencang. Dalam beberapa detik, aku menembak sang puncak Jepang beberapa kali. Dalam selisih detik itu, awan tipis berhasil menutupi gunung besar itu sepenuhnya. Keren sekali anginnya :).</p>
<p><img class="size-full wp-image-508 aligncenter" title="Tokyo1" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Tokyo1.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Kereta menderu kencang, masuk Yokohama, Shinagawa, dan Tokyo. Mendadak ingat kata2 Paul (di Pelajaran Bahasa Perancis Buku 1). &#8220;Je n&#8217;aime pas Paris. Paris est une grande ville. Je n&#8217;aime pas les grandes villes.&#8221; Lompat dari Kyoto ke Tokyo, aku mendadak punya perasaan yang sama. Tokyo Station riuh sekali. Aku sempat tersesat ke arah luar. Tapi di luar suasanyanya lapang, tenang, teduh, dan mirip bagian penuh taman di London. Pingin menikmati taman, tapi luggage ini masih mengganggu.</p>
<p>Aku masuk lagi, cari Otemachi station, beli tiket harian, dan langsung mengarah ke timur, menyeberangi Edogawa (Sungai Edo), dan turun di Nishikasai. Rencananya. Tapi keretanya jalan terus. Wkwk. Kena traffic engineering :). Ini kereta tak berhenti di semua stasiun di perjalanan keluar. Jadi turun di Urayasu, naik ke arah yang berlawanan, dan turun di Nishikasai, akhirnya. Hotelku, namanya Park Lane, berada beberapa langkah dekat stasiun. Mungil (tapi bertingkat 9). Ruang untukku kecil, dengan fasilitas minim, tapi dengan kebersihan dan fungsi yang prima (gak ada kran bermasalah, seperti dijumpai di 90% hotel non bintang lima di Indonesia). Mandi. Segar. Balik ke Tokyo.</p>
<p>Sendiri di kota besar agak tak menarik. Jadi aku memutuskan mengunjungi teman yang dicintai banyak orang. Hachiko :). Hachiko, anjing yang setia itu, telah mati abad lalu. Namun ia diabadikan sebagai sebuah patung di Shibuya. Shibuya ada di barat Tokyo. Aku melintas dari ujung timur ke ujung barat, sambil beradaptasi dengan MRT Tokyo. Sebagian besar pesan disampaikan dalam Bahasa Jepang dan Huruf Kanji. Hanya sedikit bahasa Inggris terbaca. Syukur kalau ada huruf Katakana yang aku masih bisa paham. Tampaknya cukup banyak pencari Hachiko :), sampai ia dijadikan sati pintu keluar di Shibuya Station: Hachiko Exit. Dan patung Hachiko tampak tak jauh dari pintu itu. Masih menatap stasiun, seperti masih selalu menunggu tuannya kembali. Sebentar aku menemani Hachiko, turut menatap stasiun, barangkali mengenali sang tuan yang barangkali turun dari MRT bareng aku.</p>
<p><img class="size-full wp-image-518 aligncenter" title="Tokyo21" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Tokyo21.jpg" alt="" width="370" height="370" /></p>
<p>Hachiko juga diabadikan dalam berbagai penanda ruangan, jadi penutup manhole hingga ornamen dinding.</p>
<p><img class="size-full wp-image-509 aligncenter" title="Tokyo2" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Tokyo2.jpg" alt="" width="500" height="178" /></p>
<p>Aku meninggalkan Hachiko, dan berkeliling sebentar di Shibuya. Tempat itu tak jauh dari Harajuku. Sabtu malam, suasana Harajuku mulai terasa. Wow. OK, aku kembali ke Tokyo. Dan kali ini aku sampai di Ginza.</p>
<p><img class="size-full wp-image-510 aligncenter" title="Tokyo3" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Tokyo3.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Ginza ini daerah pertokoan di atas tanah termahal di dunia. Aku tergoda masuk ke Apple Store, lalu sebuah toko musik. Hmmm, semua cover CD dilapis dengan huruf katakana dan kanji. Memang aku mengenali nama Waaguneru dalam huruf katakana. Tapi scanning jadi tak mudah lagi. Rohengrin. Warukuure. Aku memutuskan kabur ke Tokyo Tower, biar bisa melihat seluruh Tokyo. Tokyo Tower berada 600m dari Kamiyacho Station. Tapi jalannya berbukit. Tak melelahkan, karena suasanyanya menarik, tanpa mobil terlalu banyak. Tak lama tampak Tokyo Tower. Tapi &#8230; heh &#8230; di bawahnya &#8230;. ada Presiden IEEE. Loh, kenapa beliau malah di sana. Trus, apa pikir beliau lihat anak buahnya jalan2 gini yach. Wkwkwk. Beliau lihat aku juga, trus berbagi senyum, lalu kami berpisah. Haha.</p>
<p><img class="size-full wp-image-519 aligncenter" title="Tokyo22" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Tokyo22.jpg" alt="" width="370" height="493" /></p>
<p>Di Tokyo Tower, kita harus beli tiket 2 kali. Pertama, untuk naik ke ketinggian 150m (seharga ¥800), dan kemudian untuk naik lagi ke ketingguan 250m (seharga ¥600). Tinggi tower sendiri 340m. Cukup keren pemandangan di atas. Kita dapat melihat dari kuil-kuil, Ginza, hingga Teluk Tokyo.</p>
<p><img class="size-full wp-image-511 aligncenter" title="Tokyo4" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Tokyo4.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Sayangnya lift sempat macet. Hahaha, ada juga yang bisa macet di Tokyo. Mengesalkan, karena akhirnya aku bisa sampai di atas saat langit tak biru lagi.</p>
<p><img class="size-full wp-image-512 aligncenter" title="Tokyo5" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Tokyo5.jpg" alt="" width="500" height="310" /></p>
<p>Turun dari tower, aku cari makan malam sebentar. Dan mencari akses Internet sampai ke Starbucks. Ginza lagi. Ini cabang Starbucks pertama di Jepang. Tapi akses Internetnya gak keren. Mungkin akses Internet yang kencang dan gratis hanya ada di Apple Store :). Pulang.</p>
<p>Hotel di pinggiran kota memberikan hal menarik. Harga kamar jauh di bawah rerata harga kamar di kota Tokyo. Lalu, kita juga jadi bisa mensyukuri sebuah peradaban yang telah berhasil menyelesaikan masalah transportasi. Kurang dari setengah jam dari pinggiran ke pusat salah satu kota terbesar di dunia itu. Dan kita dapat melihat suasana Jepang yang berbeda. Di pinggiran kota, orang tak lagi menyeberang di zebra cross, tak lagi rajin menunggui lampu hijau tanda boleh menyeberang. Lampunya ada, tapi diabaikan, karena jumlah mobil juga tak banyak. Juga, di pinggiran ini terasa bahwa warga Jepang sungguh payah berbahasa Inggris. Tentu bagi mereka ini bukan kelemahan :).</p>
<p>Aku pikir aku sudah melakukan kunjungan budaya ke Kyoto dan Nara. Jadi di Tokyo aku mau melihat budaya yang berbeda. Tapi pagi hari itu, tergoda juga aku mengunjungi Meiji Shrine. Ini kuil Shinto yang konon terpopuler di Tokyo, tempat konon banyak orang memutuskan menikah atau memberikan pemberkatan kepada bayi (mengikuti ajaran Shinto) di sana. Jadi, ke sanalah aku pergi, buat lihat pengantin, wkwkwk. Kompleks kuilnya besar sekali, dan memiliki hutan di dalamnya. Berjalan ke dalam, biarpun menyegarkan, terasa agak melelahkan (heii, aku baru jalan kali hampir seminggu, wkwkwk). Terdapat banyak gerbang tinggi di dalam kompleks itu.</p>
<p><img class="size-full wp-image-513 aligncenter" title="Tokyo11" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Tokyo11.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Di dalam, cukup banyak yang melakukan upacara doa, lengkap dengan acara tepukan tangan. Menarik juga. Dan, aku beruntung, memang ada yang sedang melakukan upacara pengantin di sana :). Aku ikuti acara itu sampai selesai :).</p>
<p><img class="size-full wp-image-514 aligncenter" title="Tokyo6" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Tokyo6.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Mengikuti pesan <a href="http://ar.or.id">Mas Ahmad Rully</a>, aku meneruskan perjalanan ke Odaiba. Ini wilayah baru yang dibangun di lepas pantai Tokyo, disusun sebagai benteng untuk melindungi Tokyo dari ancaman tsunami. Di atasnya sendiri dibangun fasilitas umum dengan konstruksi kokoh, dengan alur yang disusun untuk memecah kekuatan tsunami. Beberapa yang terlihat adalah musium aquatic, musium maritim, musium telekomunikasi, dan musium sains. Tentu yang aku kunjungi adalah musium sains. Miraikan.</p>
<p><img class="size-full wp-image-515 aligncenter" title="Tokyo7" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Tokyo7.jpg" alt="" width="500" height="313" /></p>
<p>Musium ini lebih mewawas ke sains dan teknologi masa kini dan masa depan. Tapi, alih-alih memamerkan kemajuan terkini, ia lebih berfokus menampilkan cara berkembangnya ide-ide, dari ide kecil menjadi penemuan besar yang akhirnya memberikan manfaat bagi kemanusiaan. Salah satu metode yang menarik, tentu: serendipity. Di tempat ini juga ada forum, ada teater, dll. Cukup lengkap.</p>
<p><img class="size-full wp-image-516 aligncenter" title="Tokyo12" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Tokyo12.jpg" alt="" width="500" height="313" /></p>
<p>Kembali ke kota, aku sempat baca bahwa di Ginza sedang ada event &#8220;car free day&#8221; :). Penasaran, aku segera ke sana, menghabiskan sore, sekedar berjalan bersama ribuan warga Tokyo yang memenuhi jalan2 di Ginza,</p>
<p><img class="size-full wp-image-517 aligncenter" title="Tokyo8" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Tokyo8.jpg" alt="" width="500" height="313" /></p>
<p>Aku harus akui, di hari2 Tokyo ini aku sedang agak lelah, dan tak terlalu lincah lagi bergerak :). Jadi aku malah bersantai menikmati sore di Ginza, dan bukan meneruskan bereksplorasi :). Menjelang jam 5 sore, aku balik ke hotel, ambil luggage, dan mulai mengarah kembali ke Haneda. Hentian pertama di stasiun Nihombashi (terjemahan: Jembatan Jepang). Mataku yang lelah sudah tak bisa membaca huruf latin kecil2, dan aku mengenali nama stasion ini dari huruf kanjinya (Nihon, nama negara Jepang, tentu mudah dikenali). Tiketku mendadak tak dikenali di sini saat aku berpindah kereta. Aku minta guidance ke petugas, lalu beli tiket baru yang bisa langsung membawa ke Haneda. Mirip dengan di Kyoto, dimana aku sampai meninggalkan luggage di loket, maka di Nihombashi ini aku meninggalkan passport terjatuh di tengah stasiun. Aku baru sadar agak lama kemudian, waktu kereta datang. Tapi passport belum bergeser, masih menungguku di lantai di tengah stasiun. Aku pikir, aku harus langsung ke airport, dan nggak kemana2 lagi :). Lalu menunggu pesawat dengan tenang. Dan pulang.</p>
<p>OK, masih banyak cerita di Haneda airport, baik saat kedatangan maupun keberangkatan. Tapi kita tulis hari lain deh :).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travgeek.net/2011/06/21/tokyo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kyoto &amp; Nara</title>
		<link>http://travgeek.net/2011/06/18/kyoto-nara/</link>
		<comments>http://travgeek.net/2011/06/18/kyoto-nara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jun 2011 01:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[East Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Japan]]></category>
		<category><![CDATA[Kyoto]]></category>
		<category><![CDATA[Nara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koen.cc/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Negeri2 di Jepang mula2 dipersatukan sebagai federasi yang lemah pada abad ke-6. Baru di abad ke-8, kekaisaran yang kuat terbentuk dengan ibukota di Nara. Pemerintahan Nara harus berbagi kekuatan dengan bangsawan Fujiwara dan agamawan Buddha, sehingga harus berpindah ke Nagaoka selama 10 tahun, lalu akhirnya berpijak di Kyoto. Kaisar beristana di Kyoto selama 1000 tahun. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Negeri2 di Jepang mula2 dipersatukan sebagai federasi yang lemah pada abad ke-6. Baru di abad ke-8, kekaisaran yang kuat terbentuk dengan ibukota di Nara. Pemerintahan Nara harus berbagi kekuatan dengan bangsawan Fujiwara dan agamawan Buddha, sehingga harus berpindah ke Nagaoka selama 10 tahun, lalu akhirnya berpijak di Kyoto. Kaisar beristana di Kyoto selama 1000 tahun. Namun pemerintahan praktis dipegang oleh kekuatan militer samurai yang dipimpin shogun, yang tak selalu berpusat di Kyoto. Kekuasaan shogun terlama adalah dinasti shogun Tokugawa. Ini baru berakhir pada abad ke-19, saat AS memaksa membuka isolasi Jepang, dan shogun yang terkalahkan dijatuhkan sekelompok samurai dalam revolusi yang disebut Restorasi Meiji. Kaisar Mutsuhito yang masih muda diangkat, diberi nama Tenno Meiji, dan dipindah posisinya ke Tokyo. Pemerintahan praktis dipegang oleh militer modern yang berpendidikan barat, dengan gaya agresif. Agresivitas ini meruntuhkan Jepang saat PD-II, yang sempat membuat Jepang diduduki AS. Kini, Jepang masih memiliki kaisar; namun pemerintahan dilaksanakan oleh parlemen yang dipimpin Perdana Menteri. Dan setelah soal AP-RCCC beres, aku memutuskan mengunjungi tiga ibukota Jepang: Nara, Kyoto, dan Tokyo.</p>
<p>Titik pertama adalah benteng Nijo. Benteng ini dibangun oleh Shogun Tokugawa yang pertama setelah perang Sekigahara di awal abad ke-17, sekaligus tempat ia menyatakan diri sebagai shogun. Tempatnya luas di bagian barat Kyoto, lengkap dengan taman yang indah. Seperti umumnya petinggi militer, para shogun ini penakut dan curiga. Maka di sekelilingnya dibangun tembok tinggi dengan parit lebar. Gedung utama memiliki lantai kayu tebal, namun dipasangi alarm yang unik, yaitu sepasang logam penderit di bawah setiap lantai. Sepelan apa pun kita melangkah, akan terdengar suara kicau burung bulbul dari bawah kaki kita.</p>
<p><img class="size-full wp-image-491 aligncenter" title="Shogun-01" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Shogun-01.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Sayang sekali pengunjung hanya boleh mengambil foto dari luar, tidak dari dalam. Padahal di dalam kita bisa melihat suasana kehidupan shogun di ruang-ruang kerja, ruang rapat, ruang kurir, dengan dinding berlukisan kertas, dan kayu tebal utuh berukir. Benteng ini, selain tempat shogun Tokugawa pertama diangkat, juga merupakan tempat shogun Tokugawa terakhir diturunkan dalam kudeta berjudul Restorasi Meiji. Pemerintahan Tokugawa sendiri lebih banyak dilakukan dari kota Edo (yang setelah Restoraji Meiji disebut Tokyo), biarpun ibukota resmi tetap di Kyoto.</p>
<p>Kunjungan berikutnya, sambil menunggu waktu untuk dapat masuk ke Istana Kaisar, adalah ke kuil emas, Kinkaku-ji. Ini kuil zen yang dibangun zaman shogun Ashikaga, sebelum masa Tokugawa. Namun tentu talah dilalukan banyak renovasi sehingga ia terpelihara hingga kini. Kuil ini benar2 berlapis emas. Di puncaknya berdiam seekor phoenix emas. Wah, warga Coventry akan suka kuil ini :)</p>
<p><img class="size-full wp-image-492 aligncenter" title="Kinkakuji" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Kinkakuji.jpg" alt="" width="500" height="313" /></p>
<p>Akhirnya, pada waktu yang telah ditetapkan, kami dapat datang ke Istana Kaisar di Kyoto. Berbeda dengan benteng shogun, istana ini tak dikelilingi parit. Kaisar tak sepenakut penguasa militer. Tempatnya sangat luas, dengan taman2 yang asri, dan kolam2. Benteng memiliki beberapa pintu: satu untuk shogun, satu untuk sang kaisar sendiri, dan satu untuk orang-orang lainnya. Tentu saja, setelah tidak ada shogun, Kaisar juga pindah ke Tokyo :). Kawasan ini masih dianggap sebagai situs kenegaraan. Jadi kami berjalan di dalam sambil diikuti seorang polisi yang sopan dan pendiam. Tak semua tempat boleh dimasuki atau difoto :).</p>
<p><img class="size-full wp-image-493 aligncenter" title="Istana" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Istana.jpg" alt="" width="500" height="313" /></p>
<p><img class="size-full wp-image-494 aligncenter" title="Lorong" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Lorong.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p><img class="size-full wp-image-495 aligncenter" title="Tenno" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Tenno.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p><img class="size-full wp-image-502 aligncenter" title="Bebek" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Bebek.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Kunjungan ke istana memakan waktu tepat 1 jam. Setelah itu, dengan bis aku ke Nara. Nara berada sekitar 1 jam perjalanan dari Kyoto, ke arah selatan melalui express way. Kotanya kecil, dan kini menjadi lokasi pemukiman baru yang modern. Namun situs pemerintahan lama masih terjaga rapi.</p>
<p>Memasuki kawasan kuil besar Nara, para pengunjung akan disambut oleh rusa-rusa yang hidup bebas. Ratusan rusa jinak menemani atau mengganggui para pengunjung. Tapi tak jorok. Ada petugas yang sigap setiap saat membersihkan tempat kalau rusa-rusa itu mengotori tempat. Anak-anak berseragam sekolah lebih antusias bermain dengan para rusa bebas solidaritas itu.</p>
<p><img class="size-full wp-image-498 aligncenter" title="Rusa" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Rusa.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Melintasi gerbang besar dengan penjaga yang besar dan angker (tapi patung), kita akan melihat kuil Nara yang besar dan terkenal ke ujung bumi ini.</p>
<p><img class="size-full wp-image-499 aligncenter" title="Nara-1" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Nara-1.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Di dalam kuil besar itu, tersimpan patung Buddha setinggi 15m. Konon ini yang terbesar di dunia. Patung ini dikelilingi para boddhisatva yang lebih kecil. Cukup banyak yang berdoa di sana. Aku hanya berputar sebentar, lalu menemukan tempat menarik buat me-time: sebuah tempat sepi, sejuk, asri, di tepi kolam.</p>
<p><img class="size-full wp-image-500 aligncenter" title="Me-Time" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Me-Time.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Setelah riuh panjang urusan transportasi, konferensi, dan sejarah2 para penguasa, akhirnya ada tempat menarik buat diam dan merenung. Cukup lama aku di sini. Bahkan tanpa mengeluarkan gadget apa pun :). Tapi rintik hujan mulai mengganggu. Jadi, aku harus pindah ke kunjungan terakhir: wisma bangsawan Fujiwara.</p>
<p>Fujiwara adalah keluarga yang selama berabad2 cukup berpengaruh di kekaisaran. Rumahnya berada di tengah hutan kecil yang amat rindang. Menjelang pintu masuk, terpasang ratusan atau mungkin ribuan lentera batu yang besar. Aku membayangkan semua lentera ini dipasang saat kaisar atau tokoh penting lain datang di sore hari.</p>
<p><img class="size-full wp-image-501 aligncenter" title="Fujiwara" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Fujiwara.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Tapi sore itu, aku memutuskan untuk beristirahat kembali ke Kyoto. Sudah harus bersiap pulang. Namun, sebelum pulang, ada satu kunjungan lagi: Tokyo.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travgeek.net/2011/06/18/kyoto-nara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kyoto</title>
		<link>http://travgeek.net/2011/06/17/kyoto/</link>
		<comments>http://travgeek.net/2011/06/17/kyoto/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 11:00:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[East Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Japan]]></category>
		<category><![CDATA[Kyoto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koen.cc/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Bumi bulat itu menarik, membuat banyak hal tak disangka. Di Indonesia, negara di Asia Timur di selatan khatulistiwa, orang mengarah kiblat ke barat agak utara. Tapi di Jepang, negara di Asia Timur, jauh di utara khatulistiwa, arah kiblat juga ke barat agak utara. Tampak tak logis dengan peta dua dimensi, tapi amat logis dilihat di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bumi bulat itu menarik, membuat banyak hal tak disangka. Di Indonesia, negara di Asia Timur di selatan khatulistiwa, orang mengarah kiblat ke barat agak utara. Tapi di Jepang, negara di Asia Timur, jauh di utara khatulistiwa, arah kiblat juga ke barat agak utara. Tampak tak logis dengan peta dua dimensi, tapi amat logis dilihat di bola dunia :). Hal ini yang terpikir saat aku akhirnya berhasil masuk ke kamarku di Righa Hotel, di tengah kota tua Kyoto, setelah perjalanan panjang via udara dari Jakarta, KL, Tokyo, disusul dengan Shinkanzen ke kota ini.</p>
<p><img class="size-full wp-image-474 aligncenter" title="Shinkanzen-1" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Shinkanzen-1.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Perjalanan dari Tokyo ke Kyoto menghabiskan sekitar ¥12.000. Tapi cukup menarik, kerna aku jadi sempat melirik Gunung Fuji nan terkenal akan bentuknya yang simetris menjulang itu. Shinkanzen memungkinkan Tokyo-Kyoto ditempuh dalam kurang dari 3 jam. Maka aku masuk Kyoto terlalu pagi. Datang ke Rihga Hotel (hanya 10 menit berjalan kaki dari kereta), aku meminta early check-in. Nona waiter menarik luggageku ke Lt 8, mengantarku ke kamar yang nyaris perfect, dan mengingatkan bahwa di negeri ini tak dikenal budaya tips.</p>
<p><img class="size-full wp-image-475 aligncenter" title="Rihga-01" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Rihga-01.jpg" alt="" width="500" height="313" /></p>
<p>Kelelahan, aku langsung membersihkan badan, berbaring, dan langsung tidur beberapa jam. Aku menempuh 2 jam dari Jakarta ke KL, kemudian transit di KL selama 6 jam, dan meneruskan penerbangan ke Haneda selama 7 jam. Detailnya bisa aku ceritakan di posting berikutnya :). Tapi aku sampai Haneda menjelang tengah malam, dan harus menunggu kereta pertama ke Kyoto 6 jam kemudian. Disusul perjalanan 3 jam dengan kereta. Aku pikir badanku memerlukan restorasi sebelum menikmati kota Kyoto.</p>
<p>Menjelang sore aku bangun, mandi lagi, dan melaporkan diri ke organiser IEEE. <a href="http://tlk.lv/25u">Aku ke Kyoto memang untuk menghadiri IEEE ICC dan Comsoc AP-RCCC di KICC</a>. KICC berada di ujung timurlaut kota Kyoto. Selesai, aku berkeliling ke pusat kota Kyoto, mengunjungi beberapa tourist centre. Ini negara ajaib. Sederhana, tak rumit, bersih, tanpa sampah dan bahkan hampir tanpa debu. Tourist centre di Kyoto Station sangat menolong. Banyak officer di sana. Aku dilayani seorang bapak yang sudah berumur. Dengan bahasa Inggris yang fasih dan lambat, ia menceritakan tempat menarik di Kyoto, tempat yang dapat dikunjungi di sore dan malam hari (karena hari sudah sore), dan bagaimana memilih tiket seefisien (semurah) mungkin selama aku di Kyoto. Juga ia memberikan beberapa voucher diskon di tempat2 menarik yang layak dikunjungi. Hari itu, aku beli tiket bis harian seharga ¥500 (karena takkan pergi terlalu jauh dari pusat kota), sekaligus beli tiket bis dan subway harian untuk besok seharga ¥1200.</p>
<p>Mengikuti arahan si Bapak, aku memilih bis nomor 100, ke bagian timur Kyoto. Turun di Gojo, aku menemukan diri berada di kaki bukit. Sebuah jalan kecil memisahkan jalur mobil dengan jalur pejalan kaki. Mulai berjalan mendaki, aku menikmati pemandangan rumah2 mungil, toko2 mungil di sepanjang jalan. Sekitar 20 menit, aku sampai di gerbang Kiyomizudera.</p>
<p><img class="size-full wp-image-480 aligncenter" title="Kiyo-07" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Kiyo-07.jpg" alt="" width="500" height="313" /></p>
<p><img class="size-full wp-image-477 aligncenter" title="Kiyo-02" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Kiyo-02.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Di sekolah kita diajari bahwa warga Jepang memeluk agama Shinto dan Buddha. Warge Jepang sendiri tersebar antara spektrum yang benar2 meyakini urusan agama, hingga yang menjadikan agama hanya sebagai lifestyle. Namun Buddha dan Shinto sering dipeluk sekaligus. Jadi kita akan mudah mendapati kompleks seperti Kiyomizudera, dimana terdapat baik kuil Buddha maupun Shinto di dalamnya.</p>
<p><img class="size-full wp-image-478 aligncenter" title="Kiyo-03" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Kiyo-03.jpg" alt="" width="500" height="313" /></p>
<p>Kiyomizudera didirikan di perbukitan yang sejuk dan berpemandangan amat indah ini oleh para rahib Buddha pada tahun 800 &#8212; bahkan sebelum Kyoto menjadi ibukota kekaisaran Jepang. Kompleksnya cukup luas, meliputi beberapa bangunan tempat berdoa, dan sebuah kuil Shinto di dalamnya.</p>
<p><img class="size-full wp-image-488 aligncenter" title="Kiyo-06" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Kiyo-06.jpg" alt="" width="400" height="400" /></p>
<p><img class="size-full wp-image-479 aligncenter" title="Kiyo-04" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Kiyo-04.jpg" alt="" width="400" height="400" /></p>
<p>Cukup lama aku mengelilingi bukit2 itu, sebelum memutuskan mulai turun. Di jalan turun (juga sesuai arahan Bapak di TIC), aku memilih jalan yang berbeda, dengan lebih banyak rumah tradisional, kuil shinto (dengan gerbang tegak yang khas), dan pagoda. Wisata jalan kaki yang menarik sekali. Tentu, semuanya gratis. Kalau haus, selalu mudah ditemukan vending machine tempat membeli minuman seharga ¥120 &#8211; ¥150.</p>
<p><img class="size-full wp-image-481 aligncenter" title="Kiyo-05" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Kiyo-05.jpg" alt="" width="400" height="424" /></p>
<p>Turun lagi, aku menyeberangi jalan raya, dan sampai di Konnin-ji Temple, sebuah kompleks kuil zen yang cukup luas juga. Ini juga satu dari lima kuil terpenting di Kyoto. Di sebelahnya adalah Gion Corner, kawasan dengan rumah2 kecil bergaya tradisional. Di Gion Corner juga terdapat sebuah teater, yang ditujukan bagi para wisatawan yang berminat mencicipi berbagai elemen budaya Jepang tanpa waktu terlalu banyak. Menggunakan voucher dari TIC, aku membayar ¥2800, dan mengikuti satu sesi. Sesi di dalamnya, meliputi kisah tentang upacara teh, para geisha, tata bunga, teater Noh, hingga teater boneka. Semuanya dilengkapi dengan deskripsi yang menarik.</p>
<p><img class="size-full wp-image-483 aligncenter" title="Geisha3" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Geisha3.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p><img class="size-full wp-image-482 aligncenter" title="Geisha1" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Geisha1.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p><img class="size-full wp-image-484 aligncenter" title="Geisha2" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/06/Geisha2.jpg" alt="" width="500" height="312" /></p>
<p>Keluar dari Gion Corner, malam telah cukup gelap. Berbekal peta kertas, aku menyusuri beberapa jalan dengan bis. Ada pola yang lucu di Kyoto. Jalan-jalan membentuk lajur-lajur dan baris-baris yang rapi. Dan kawasan nama jalan diberi nama dengan nomor, seperti sanjo, shijo, gojo, shichijo, kujo, jujo, dll. Tujuan jalan malam sih, cari toko elektronik, buat dari plug adapter. Tak mudah ternyata. Jepang konon pusat elektronika dunia :). Tapi jauh lebih mudah cari artefaks budaya dan kuliner di kota ini daripada perangkat elektronika :). Tapi akhirnya dapat.</p>
<p>Yang menarik adalah, biarpun trafik di jalan-jalan Kyoto tak terlalu lancar, tetapi bis kota selalu tempat waktu. Bis terakhir yang kunaiki malam ini adalah bis 206 yang akan lewat pukul 21.37. Tepat 21.37 bis datang, dan pergi lagi. Negara ajaib.</p>
<p>OK, <a href="http://kun.co.ro/2011/06/16/sidang-comsoc-asia-pasifik/">cerita hari kedua ada di blog satunya</a>, dan lebih banyak berfokus ke konferensi IEEE ICC dan Comsoc AP-RCCC di KICC. Cerita setelah ICC, tunggu sampai punya waktu dulu ya :).</p>
<p>Catatan: <strong>Kurs Yen</strong>. Kalau lagi malas, hitung ¥1 = Rp100. Jadi ¥100 = Rp 10.000,- &#8212; Tapi kalau mau konservatif, tambahkan 10% lagi. Jadi ¥100 = Rp 11.000,- Pasti banyak dari kita yang sudah terbiasa menghitung seperti ini :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travgeek.net/2011/06/17/kyoto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Visa Jepang</title>
		<link>http://travgeek.net/2011/04/29/visa-jepang/</link>
		<comments>http://travgeek.net/2011/04/29/visa-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2011 18:21:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[East Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Visa]]></category>
		<category><![CDATA[Japan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koen.cc/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[Harus aku akui: Jepang top. Dibandingkan negeri2 lain yang mengharuskan pengurusan visa atas kunjungan kita, pengurusan visa untuk Jepang adalah yang paling mudah. Di Indonesia, pengurusan visa ini dapat dilakukan di beberapa konsulat Jepang yang terdapat di Jakarta, Surabaya, Makassar, Denpasar, dan Medan; sesuai wilayah tugas konsulat masing-masing. Tentu kita harus menyiapkan beberapa dokumen. Untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Harus aku akui: Jepang top. Dibandingkan negeri2 lain yang mengharuskan pengurusan visa atas kunjungan kita, pengurusan visa untuk Jepang adalah yang paling mudah. Di Indonesia, pengurusan visa ini dapat dilakukan di beberapa konsulat Jepang yang terdapat di Jakarta, Surabaya, Makassar, Denpasar, dan Medan; sesuai wilayah tugas konsulat masing-masing.</p>
<p>Tentu kita harus menyiapkan beberapa dokumen. Untuk aku yang pergi untuk urusan &#8220;bisnis&#8221; :), dokumen yang disiapkan adalah:</p>
<ol>
<li>Paspor, asli</li>
<li>Formulir permohonan visa
<ul>
<li>Download formulir di sini: <a href="http://www.mofa.go.jp/j_info/visit/visa/pdfs/application1.pdf">PDF</a></li>
<li>Dilengkapi pasfoto (ukuran 4,5 × 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar)</li>
</ul>
</li>
<li>Fotokopi KTP (Surat Keterangan Domisili)</li>
<li>Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (jika relevan)</li>
<li>Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)</li>
<li>Jadwal perjalanan (semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang)
<ul>
<li>Download formulir di sini: <a href="http://www.id.emb-japan.go.jp/vish_itnr.DOC">DOC</a></li>
</ul>
</li>
<li>Surat Keterangan Bekerja</li>
<li>Surat undangan
<ul>
<li>Download formulir di sini: <a href="http://www.id.emb-japan.go.jp/vish_sho.PDF">PDF</a></li>
</ul>
</li>
<li>Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan:
<ul>
<li>Bila instansi di Indonesia yang bertanggungjawab atas biaya
<ul>
<li>Surat dari kantor tempat Pemohon bekerja yang menjelaskan tujuan kunjungan ke Jepang</li>
</ul>
</li>
<li>Bila pihak Pengundang yang bertanggungjawab atas biaya
<ul>
<li>Surat Jaminan [ download (<a href="http://www.id.emb-japan.go.jp/vish_mimo.PDF">PDF</a>) ]</li>
<li>Tokibo tohon atau surat pendaftaran perusahaan/instansi</li>
<li>Surat Keterangan Bekerja bila undangan secara personal)</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>Namun jika kita pergi untuk tujuan wisata, dokumen yang diperlukan selain nomor 1-6 seperti tersebut di atas adalah:</p>
<ol start="7">
<li> Fotokopi dokumen yang menunjukkan relasi para pemohon, misalnya: kartu keluarga, akta lahir, dsb</li>
<li>Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan:
<ul>
<li>Bila pihak Pemohon yang bertanggungjawab atas biaya
<ul>
<li>Fotokopi bukti keuangan, seperti rekening koran atau buku tabungan 3 bulan terakhir. Bila penanggung jawab biaya bukan pemohon, tetapi pihak lain seperti ayah/ibu, maka harus dilampirkan dokumen yang dapat membuktikan hubungan dengan penanggung jawab biaya.</li>
</ul>
</li>
<li>Bila pihak Pengundang yang bertanggungjawab atas biaya.
<ul>
<li>Surat Jaminan [ download (<a href="http://www.id.emb-japan.go.jp/vish_mimo.PDF">PDF</a>) ]</li>
<li>Dokumen yang berkenaan dengan pengundang seperti tercantum di bawah ini (salah satu saja)
<ul>
<li>Surat Keterangan Pembayaran Pajak (nouzei shomeisho) yang mencantumkan besar penghasilan.</li>
<li>Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT)/(kakutei shinkokusho hikae)</li>
<li>Surat Keterangan Penghasilan (shotoku shomeisho)</li>
<li>Surat Referensi Bank</li>
<li>Fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir</li>
<li>Surat Keterangan Bekerja yang mencantumkan lama bekerja dan besar penghasilan</li>
</ul>
</li>
<li>Surat Keterangan Domisili Pengundang (juminhyo).
<ul>
<li>Bila Pengundang adalah WN Asing yang berdomisili di Jepang, maka Surat Keterangan Pencatatan Domisili (Alien&#8217;s Registration Card/ Certificate).</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>Semua dokumen harus disusun menurut nomor di atas. Berbeda dengan pengurusan visa Inggris, konsulat Jepang lebih suka dokumen yang seminimal mungkin (tetapi cukup untuk mengambil keputusan pemberian visa). Dokumen yang terlalu banyak akan dikembalikan di loket. Dokumen dimasukkan pada hari kerja (Senin-Jumat) pukul 08.30 &#8211; 12.00, dan diambil pada waktu yang diberikan petugas penerima dokumen, pukul 13.30 &#8211; 15.00 waktu setempat.</p>
<p>Lokasi konsulat Jepang, dan wilayah yuridiksinya:</p>
<ol>
<li>Jakarta (Konsulat Jenderal)
<ul>
<li>Jl. M.H. Thamrin No. 24, Jakarta 10350</li>
<li>Yuridiksi: Sumatra bagian selatan, Jawa selain Jatim, Kalimantan bagian barat.</li>
</ul>
</li>
<li>Makassar
<ul>
<li>Jl. Jenderal Sudirman No.31, Makassar</li>
<li>Yuridiksi: Sulawesi, Maluku, Papua</li>
</ul>
</li>
<li>Surabaya
<ul>
<li>Jl. Sumatera No. 93, Surabaya</li>
<li>Yuridiksi: Jawa Timur, Kalimantan bagian timur</li>
</ul>
</li>
<li>Denpasar
<ul>
<li>Jl. Raya Puputan No.170, Renon, Denpasar</li>
<li>Yurisdiksi: Bali, Nusa Tenggara</li>
</ul>
</li>
<li>Medan
<ul>
<li>Wisma BII, 5th floor. Jl. Pangeran Diponegoro No. 18, Medan</li>
<li>Yuridiksi: Sumatera bagian utara, barat, timur</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>Aku sendiri memasukkan dokumen2 tanggal 25 April, dan visa sudah dapat diambil tanggal 28 April. Biaya untuk single entry 300rb, atau untuk multiple entruy 600rb, dibayarkan saat pengambilan, bukan saat memasukkan dokumen. Unik dan beradab :). Visa tercetak amat profesional, berwarna maroon muda, dengan foto kita diset hitam putih, agak mirip manga :p.</p>
<p><img class="size-full wp-image-462 aligncenter" title="VisaJapan" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/04/VisaJapan.jpg" alt="" width="500" height="373" /></p>
<p>Lucu nggak sih?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travgeek.net/2011/04/29/visa-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Au Pays des Gaulois</title>
		<link>http://travgeek.net/2011/03/14/negeri-para-galia/</link>
		<comments>http://travgeek.net/2011/03/14/negeri-para-galia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 16:22:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Europe]]></category>
		<category><![CDATA[armoric]]></category>
		<category><![CDATA[breizh]]></category>
		<category><![CDATA[bretagne]]></category>
		<category><![CDATA[France]]></category>
		<category><![CDATA[guingamp]]></category>
		<category><![CDATA[lannion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koen.cc/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu kesukaan yang tak sengaja dimulai adalah mengkoleksi buku Le Petit Prince dari Antoine de Saint-Exupéry dalam berbagai bahasa. Minggu lalu masuk koleksi terakhirku: Ar Priñs Bihan, dalam bahasa Brezhhoneg, atau bahasa Breton, atau dalam bahasa yang mungkin kita lebih akrab: Bahasa Galia Celtic :). Sambil asik membacai bukunya (haha), aku tak sengaja tersadar: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu kesukaan yang tak sengaja dimulai adalah mengkoleksi buku <a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=200120&amp;id=595604327">Le Petit Prince dari Antoine de Saint-Exupéry</a> dalam berbagai bahasa. Minggu lalu masuk koleksi terakhirku: <a href="http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150160941169328&amp;set=a.407659674327.200120.595604327">Ar Priñs Bihan</a>, dalam bahasa Brezhhoneg, atau bahasa Breton, atau dalam bahasa yang mungkin kita lebih akrab: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Breton_language">Bahasa Galia Celtic</a> :). Sambil asik membacai bukunya (haha), aku tak sengaja tersadar: ini negeri yang sebenarnya cukup istimewa buat aku :).</p>
<p><img class="size-full wp-image-428 alignright" title="Bretagne3" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/03/Bretagne3.jpg" alt="" width="200" height="200" />Beberapa rekan pernah bilang bahwa aku belum pernah beperjalanan ke luar Indonesia atas biaya Telkom. Tentu ini tidak benar. Justru perjalanan perdanaku ke luar Indonesia adalah atas perintah Telkom. Berempat, kami disuruh belajar transmisi pada core network di Lannion (Perancis) dan access network di Toledo (Spanyol). Air France menerbangkanku melintasi samudera India, bukit cadas di timur Arabia, kawasan Balkan yang masih berletup perang, kota Bratislava, dan mendaratkanku di Roissy CDG, Paris. Bahkan masih terasa aroma menarik saat aku menjejakkan kaki di Paris, yang dingin tapi belum membeku. Pagi aku habiskan melihat instalasi yang selalu kucitacitakan menatapnya (tertawailah) &#8212; Eiffel. Lalu TGV membawaku melintasi padang jewawut ke arah barat: Le Mans, Rennes, dan di kota yang aku baru dengar seumur hidup &#8212; Guingamp. Sebuah bis kecil menjemputku di sana, dan membawaku ke Pantai Trestrau, dan aku disambut guide kami: Vanni Tran Vivier.</p>
<p><img class="size-full wp-image-437 alignright" title="Breizh8" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/03/Breizh8.jpg" alt="" width="200" height="200" />Vanni mengantar kami ke hotel kecil, Marcôtel, yang harum mentega. Aku memperoleh kamar berukuran sedang, dengan perabot serba rotan, dan bed yang nyaman sekali. Tak sempat berkelana, kami diminta beristirahat cukup sampai waktu makan malam. Makan malam di luar hotel, di tepi pantai, menembus udara yang mulai beku, dengan menu sea food yang segar. Lalu dipaksa tidur :).</p>
<p>Lannion adalah kota amat kecil yang merupakan pusat riset berbagai perusahaan telekomunikasi di Perancis: France Télécom, Alcatel, Sagem, dll. Konon suasananya masih konservatif. Jadi kami mengenakan pakaian lengkap untuk training ini, termasuk jas dan dasi. Vanni menjemput kami dengan van kecil, dan membawa kami ke kota Lannion. Dalam suasana segar, aku mulai mengamati kawasan sekitar. Kawasan pantai dengan pasir putih, jalanan dengan lebar sedang dan lurus antar kota, yang mendadak menjadi jalan batu berkelok di kota-kota kecil penuh rumah-rumah berukuran sedang terbentuk dari batu-batu tebal kecoklatan. Bank, toko kecil, toko buku. Dan aku mulai sadar, walaupun semua maklumat ditulis dalam Bahasa Perancis, tetapi nama-nama tempat ditulis dalam dua bahasa. Vanni agak ngebut. Melintas kota Perros-Guirec/Perroz-Gireg, akhirnya kami mencapai kota Lannion/Lannuon.</p>
<p><img class="alignright" title="Breizh1" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/03/Breizh1.jpg" alt="" width="200" height="200" />Lannion berada di ujung barat negara Perancis. Rekan-rekan segenerasiku akan amat akrab dengan lokasi kota ini. Di komik Astérix, kawasan ini diempasis dengan gambar kaca pembesar. Ya, ini adalah negeri para galia gila dari kisah Astérix itu. Mereka berasal dari bangsa Celtic yang dulu memukimi Eropa, sebelum tergusur bangsa-bangsa Indo-German dan Roman. Di Britania, mereka terdesak ke Wales, ujung Skotlandia, Cornwall; serta di Irlandia dan Isle of Man. Di Eropa mereka terdesak nyaris menghilang. Tapi sebagian yang terusir dari Wales dan Cornwall melarikan diri kembali ke wilayah moyang mereka di kawasan barat Perancis, yang kemudian dinamai sebagai wilayah Bretagne ini (Inggris: Brittany, Celtic: Breizh). Setelah Revolusi Perancis, budaya lokal nyaris dihapus dan diperanciskan. Namun di tahun-tahun terakhir ini mulai dibangkitkan kembali budaya celtic yang nyaris tenggelam. Maka dimulailah pembangkitan budaya dan bahasa Breton (Celtic: Brezhoneg) ini. Label nama kota pun ditulis dalam dua bahasa: Perancis dan Brezhoneg. Cukup mendadak aku berangkat ke sini, menghabiskan hari-hari sebelum keberangkatan dengan belajar sistem transmisi, sampai aku belum sempat mempelajari budaya, sejarah, dan kisah unik negeri ini.</p>
<p><img class="size-full wp-image-431 alignright" title="Bretagne1" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/03/Bretagne1.jpg" alt="" width="200" height="200" />Biarpun kami hanya berempat, namun pelatihan kami dibuka oleh Kepala Training Centre Alcatel di Lannion itu, didampingi Kepala Alcatel di Indonesia (yang entah kenapa sedang ada di sana). Suasasanya memang resmi, dan kami bersyukur mengenakan pakaian resmi yang pantas, haha. Tapi setelah ceremony singkat, kami masuk ke kelas, dan instruktur kami adalah seorang engineer riang yang mengenakan kaos polo dan jeans :D. Materi pelatihan disampaikan dalam bahasa Inggris. Kami berempat duduk terpisah, agak jauh, jadi sang instruktur bisa yakin bahwa kami benar2 berkonsentrasi pada materi pelatihan :D. Saat waktu makan siang, kami diajak ke kantin karyawan. Makanannya lengkap sekali, dengan berbagai pilihan. Dan lunch time habis untuk makan sambil diskusi. Kelas dilanjutkan sampai sore. Lalu Vanni (apakah nama ini pun perlu diceltickan jadi Gweneth) menjemput kami, menunjukkan suasana kota sebentar, dan mengantar pulang. Lalu mobil diserahkan kepada kami.</p>
<p><img class="size-full wp-image-433 alignright" title="Breizh3" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/03/Breizh3.jpg" alt="" width="200" height="200" />Hari-hari berikutnya, kami berbagi tugas. Dua rekan bergantian jadi driver. Aku jadi navigator abadi (karena bisa membaca petunjuk berbahasa Perancis, dan punya intuisi arah, haha). Satu rekan kadang ada dan kadang menghilang. Kami tidak pernah lagi makan siang di kantin, tetapi selalu mencari tempat di kota. Kadang cukup membeli roti dengan berbagai isinya, lalu makan siang di tempat2 unik. Jadi waktu rehat tak disia2kan di dalam kompleks Alcatel. Pagi, aku melintasi pasir putir pantai Trestraou, setelah menyantap butter croissant yang sedap di Marcôtel. Aku diberitahu bahwa kami ditempatkan di Marcôtel dengan alasan bahwa di sana mereka membuat croissant terenak di dunia. Aku belum pernah keliling dunia sih, jadi belum bisa membuktikan. Tapi memang sejauh ini, aku belum menemukan croissant yang lebih sedap daripada di Marcôtel. Sore, kami berkeliling lagi sebelum pulang. Kadang dekat, tapi kadang iseng agak jauh.</p>
<p><img class="size-full wp-image-430 alignright" title="Bretagne2" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/03/Bretagne2.jpg" alt="" width="200" height="200" />Petualangan terjauh dilakukan waktu aku memprovokasi rekan-rekan untuk meninjau sebuah bangunan bernama Cosmopolis di dekat kota Pleumeur-Bodou/Pleuveur-Bodoù. Bangunan besar ini konon merupakan salah satu pusat sains angkasa, lengkap dengan museum, situs bersejarah, dan observatorium. Tanpa peta, kami mencari kota Pleumeur-Bodou hanya dengan melihat petunjuk jalan. tak berani bertanya, karena modal Bahasa Perancisku hanya membaca-menulis, bukan bercakap. Tapi petualangannya menarik. Kami melewati kota-kota dengan tembok kecoklatan yang berbeda dengan jalur Trestraou-Lannion. Dan akhirnya berhasillah kami mencapai Pleumeur-Bodou. Tapi cosmopolis ada di luar kota. Jadi kami harus melintasi lembah-lembah dan tebing-tebing berpadang rumput lagi untuk mencari sang Cosmopolis. Sampai dekat pun, bangunan itu tak tampak. Tapi syukur, tanda-tanda jalan membantu. Dan sampailah kami di Cosmopolis.</p>
<p>Aku lupa kenapa saat itu Cosmopolis tutup. Karena terlalu sore (lebih dari jam 17.00), karena musim sepi, atau karena hari libur :). Tapi yang jelas, kami hanya bisa melihat museumnya, dan berfoto di depan gedung kosmopolis yang berbentuk bola putih besar seperti planet yang sedang terbit itu :). Tak ingin segera kembali, kami berjalan-jalan ke sekitar. Dan &#8230; sebuah kejutan menanti &#8230; kami sampai di Kampung Astérix!</p>
<p><img class="size-full wp-image-434 alignright" title="Breizh5" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/03/Breizh5.jpg" alt="" width="200" height="200" />Di samping Cosmopolis, mereka mereservasikan sebuah lahan yang merupakan replika desa suku galia celtic purba. Sebuah desa yang dikeliling dengan pagar kayu dari pokok pohon, dengan ujung runcing. Di dalamnya: jalan-jalan kecil, dengan rumah-rumah kayu beratap daun kering. Ini bukan obyek wisata besar seperti Taman Asterix yang ada di Perancis entah bagian mana, tetapi benar-benar hanya sebuah desa Galia, di pantai Armoric yang berbatu. Kami cuma tertawa melihat &#8220;penemuan&#8221; kami ini :). Tapi ingat harus pulang.</p>
<p>Dan malamnya, <a href="http://kun.co.ro/2008/02/28/mild-und-leise/">aku dihantui oleh Tristan &amp; Iseult</a> :D.</p>
<p><img class="size-full wp-image-432 alignright" title="Breizh4" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/03/Breizh4.jpg" alt="" width="200" height="200" />Hari Jumat, suasanya lebih santai. Kami menghabiskan hanya setengah hari di Lannion, lalu ke Guingamp/Gwengamp untuk beribadah Shalat Jumat di masjid kecil di sana (<a href="http://pi.koen.cc/2008/04/banyak-cewek-alim-tak/">ada cerita sedikit di sana</a>). Sedikit jalan-jalan, aku beli buku Le Mur tulisan Sartre. Lalu kembali ke Trestraou. Terpaksa mencari makan di Trestraou, kami menemukan resto kecil. Dan di sinilah untuk pertama kali aku baru tahu, kenapa saat belajar bahasa Perancis, kita disuruh menyusun kalimat yang penuh dengan soal2 makanan, bukan teknologi. Aku harus bicara dengan koki, menegosiasikan makanan apa yang bisa kami makan, apa yang tersedia, dll, dalam bahasa Perancis. (Sementara, di kelas, kami berbincang tentang teknologi dalam bahasa Inggris saja). Lalu Vanni muncul lagi, menculik kami ke airport setempat.</p>
<p>Hanya sempat becanda sebentar; lalu pesawat domestik itu memisahkan kami dengan negeri para galia. Sore itu, kami didaratkan di Orly, Paris. Kisah berikutnya, sudah aku tulis di entry sebelumnya: <a href="http://koen.cc/2010/08/07/un-weekend-a-paris/">Weekend di Paris</a>. Lalu perjalanan diteruskan ke Madrid, Tolédo, dan London.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://travgeek.net/wp-content/uploads/2010/08/Euro-1995.png" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travgeek.net/2011/03/14/negeri-para-galia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desember di Hong Kong</title>
		<link>http://travgeek.net/2011/01/14/desember-di-hong-kong/</link>
		<comments>http://travgeek.net/2011/01/14/desember-di-hong-kong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 16:14:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
				<category><![CDATA[East Asia]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Hong Kong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koen.cc/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin Desember bukan waktu yang pas buat jalan-jalan. Takda waktu untuk persiapan, takda waktu untuk menikmati sepenuhnya, takda waktu untuk bercerita sesudahnya. Tujuan jalan di awal Desember lalu adalah Hong Kong, wilayah bekas koloni Inggris yang kini menjadi wilayah otonomi khusus di bawah RRC. Aku hanya punya 2 hari untuk mempersiapkan perjalanan (termasuk persiapan presentasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin Desember bukan waktu yang pas buat jalan-jalan. Takda waktu untuk persiapan, takda waktu untuk menikmati sepenuhnya, takda waktu untuk bercerita sesudahnya. Tujuan jalan di awal Desember lalu adalah Hong Kong, wilayah bekas koloni Inggris yang kini menjadi wilayah otonomi khusus di bawah RRC. Aku hanya punya 2 hari untuk mempersiapkan perjalanan (termasuk persiapan presentasi di forum internasional <a href="http://kun.co.ro/2010/12/02/carrier-ethernet-world-di-hongkong/">Carrier Ethernet World</a> di sana). Ini dua hari dengan beban kerja cukup tinggi; jadi aku benar2 tak memiliki persiapan memadai.</p>
<p>Yang pertama dilakukan adalah memesan tiket pesawat. Aku langsung mencoba ke Garuda Indonesia. Namun Garuda menolak reservasi yang dilakukan kurang dari 72 jam sebelum keberangkatan. Menimbang alternatif lain, akhirnya aku memilih <a href="http://www.cathaypacific.aero/">Cathay Pacific</a>: ke Hong Kong dengan penerbangan Hong Kong :). Untuk memilih hotel, aku menggunakan <a href="http://asiatravel.com/">Asia Travel</a>, dan langsung memilih hotel tak jauh dari tempat konferensi di kawasan Causeway Bay, dengan akses Internet. Kalau sebelum ke UK dan Taiwan aku menyempatkan diri mencetak halaman WikiTravel (untuk dibaca di pesawat), kali ini aku cukup memindahkan halaman WikiTravel itu ke teman jalanku: Kindle book reader. Lalu dua hari aku pakai bekerja dan melupakan urusan Hong Kong.</p>
<p>Check in di Cathay Pasific cukup santai. Kita cukup menyerahkan passport dan menyebutkan nomor penerbangan (atau tujuan penerbangan), dan prosesnya efisien. Mengurus bebas fiskal juga terasa sekedar basa basi di bulan terakhir berlakunya kebijakan pembayaran fiskal (sejak Januari 2011, warga indonesia tak lagi dipungut fiskal untuk pergi ke luar negeri). Langsung boarding, dan tak lama pesawat mengangkasa di langit Jakarta yang sedang berkabut. Kindle kubuka, dan aku mulai mencari info: apa yang harus kulakukan setelah pesawat mendarat.</p>
<p>Hong Kong International Airport berada di pulau kecil Chep Lap Kok yang memang difungsikan sebagai bandara. Dari Chep Lap Kok, kita harus melintasi Pulau Lantau, lalu menyeberang ke Pulau Hong Kong. Ada tiga sarana yang dianjurkan: bis, kereta, atau taksi, dengan ongkos sekali jalan masing-masing $40, $100, $350. HK$1 setara kira-kira Rp 1100. Jadi, kalikan angka dollar dengan 1000, tambahkan 10%. Itu saja info yang aku perlu tahu. Kindle masuk tas, Macbook keluar, dan aku harus mulai menyusun materi presentasi. Kelelahan dari hari2 sebelumnya, aku akhirnya tidur :), dan bangun saat pesawat memasuki kabut Hong Kong. Pesawat melandas lembut. Antrian imigrasi panjang, dan terasa cukup lama. Tapi prosesnya pendek.</p>
<p>Merasa agak segar akibat sempat tidur, aku memilih naik bis. Dari terminal kedatangan, kita cukup jalan lurus keluar, lalu berjalan kaki santai sebentar ke arah kanan. Loket-loket bis sudah menanti tanpa antrian. Sambil lihat peta di iPhone (dengan WiFi gratis dari airport), aku memilih bis A11 ke arah Wanchai. Antri sebentar. Di bis, terjadi kejutan: ada WiFi gratis! Tweeting dulu :), sambil mulai cari info ini itu.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-322 aligncenter" title="IMG_1284" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/01/IMG_1284.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone size-full wp-image-323" title="DSC03480" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/01/DSC03480.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Tapi lalu perhatian lebih ke arah luar jendela. Hongkong adalah wilayah lepas pantai Asia Timur yang berbukit dan bergunung. Perbukitan menghujam pantai biru, dan di lekuk lerengnya dibangun jalan raya tempat kami melintas di jalan yang halus dengan variasi lorong, terowongan, dan jembatan. Jembatan dari Lantau ke Hongkong cukup panjang, dan pemandangannya menarik. Tapi Hong Kong sedang dilapisi kabut hangat yang membuatku gagal membuat foto2 menarik.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-324 aligncenter" title="DSC03483" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/01/DSC03483.jpg" alt="" width="500" height="300" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-325 aligncenter" title="DSC03487" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/01/DSC03487.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Masuk pulau Hong Kong, tampak pemandangan dari kota modern peninggalan koloni Inggris yang kini jadi salah satu kota niaga yang paling diperhitungkan di dunia. Dulu konon Inggris sempat amat restriktif menjaga pulau ini, menjadikannya wilayah eksklusif dengan sesedikit mungkin pengaruh warga lokal. Tapi di abad 20, itu berubah, dan budaya Cina kembali memasuki Hong Kong. Dalam 1 jam, aku masuk daerah Wanchai, dengan gabungan suasana tradisional (kafe, warung, penjual makanan di pasar, dll), mal-mal modern, mobil-mobil dan tram yang padat penumpang; tapi tanpa bau amis mengambang seperti Jakarta. Melintas Wanchai, aku turun di Causeway Bay. Dengan GPS, hotel kucari sebentar.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-326 aligncenter" title="DSC03502" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/01/DSC03502.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Aku menghabiskan sore dengan meneruskan presentasi. Ilustrasi gak boleh acak2an, kan? Dan alurnya masih simpang siur. Lepas malam, aku memutuskan melihat suasana. Jalan kaki mengitari Wanchai, Causeway Bay, hingga Victoria Harbour; tersesat ke Toko Buku (tentu saja), ke pasar tradisional, dan beristirahat makan malam di sebuah kafe mungil.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-327 aligncenter" title="DSC03532" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/01/DSC03532.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-328 aligncenter" title="DSC03542" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/01/DSC03542.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-&lt;img class=" title="DSC03562" src="http://koen.cc/wp-content/uploads/2011/01/DSC03562.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>Perjalanan diteruskan dengan &#8230; beli jas :). Hahah :). Ini seminar nggak main2 sih. Dan di Hong Kong, para karyawan dan mahasiswa berjalan malam masih mengenakan jas. Rasanya kurang sopan kalaw aku nekat pakai jaket berpresentasi :). Dapat jas dari bahan wool yang nyaman, aku langsung balik. Teruskan membuat presentasi lagi; dan selesai jauh melintas tengah malam. Bobo.</p>
<p>Pagi, mandi, dan yang pertama terpikir adalah memperbaiki presentasi lagi. Kali ini soal grafis. Aku nggak sempat berlatih mempresentasikan. Pakai jas baru. Euh, sialan, kegedean &#8212; kenapa tadi malam terasa pas? Dengan taksi ($20 saja), aku ke Excelsior Hotel, tempat seminar. Menyempatkan diri jalan ke toko jas yang tak jauh dari Excelsior; dan menukar jas dengan 4 nomor di bawahnya (berarti ngantuk sekali aku semalam).</p>
<p>Seminarnya sendiri sudah aku laporkan di blog-blog berikut:</p>
<div class='one_half'>
					<a href='http://kun.co.ro/2010/12/02/carrier-ethernet-world-di-hongkong/' class='small-button smallred'><span>Blog Bahasa Indonesia</span></a>
				</div>
<div class='one_half last'>
					<a href='http://kuncoro.com/2010/12/carrier-ethernet-world-in-hong-kong/' class='small-button smallblue'><span>English Blog</span></a>
				</div><div class='clear'></div>
<p>Selesai presentasi; karena banyak yang cukup tertarik pada materi presentasiku, aku diminta masuk ke sesi diskusi panel. Kegiatan2 ini baru berakhir setelah langit menggelap. Tapi, Alhamdulillah, syukur semuanya sudah selesai. Aku tinggal jalan2. Teorinya gitu. Aku baru jalan beberapa ratus meter waktu kelelahan ini terasa mengganggu. Trus aku berpikir: ah, who cares dengan jalan2 Hongkong &#8212; istirahat aja ah. Balik. Pesan dinner di hotel. Bobo setelah makan telornya saja dan minum kopinya saja, tanpa menyentuh nasinya. Kadang lupa bahwa baru kemaren2 ini dokter memperingatkan urusan CFS (d/h CFIDS).</p>
<p>Ceritanya diterusin besok ah. Sebenernya, sekarang pun rasanya masih lelah. Haha. Tapi urusan lain sih :).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travgeek.net/2011/01/14/desember-di-hong-kong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

